Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
Kolonel Inf Muchlis Gasim, S.H., M.Si., M.H.I., CHMP.

Kolonel Inf Muchlis Gasim, S.H., M.Si., M.H.I., CHMP.

Perwira Menengah TNI AD

Pengamat komunikasi strategis, hubungan internasional, serta perkembangan teknologi dan masyarakat.

Sosial

Buku yang Harus Kembali

3 menit baca
Bagikan:
Buku yang Harus Kembali

Di dalam sebuah buku perpustakaan ada satu tanggal kecil yang mudah dilewatkan. Ia tidak mengatakan apa-apa tentang penulis, isi buku, atau halaman mana yang paling menarik. Tanggal itu hanya memberi tahu kapan buku harus dikembalikan.

Seseorang meminjamnya, membawa pulang, lalu untuk beberapa hari buku itu berpindah kehidupan. Ia bisa berada di meja kerja, terselip di dalam tas, atau diletakkan di samping tempat tidur. Ada yang selesai membacanya jauh sebelum masa pinjam berakhir. Ada pula yang baru membuka beberapa halaman ketika tanggal tadi sudah semakin dekat.

Pada waktunya, buku itu harus kembali. Mengapa?

Jawaban paling mudah tentu karena buku tersebut milik perpustakaan. Tetapi ada alasan lain yang jarang kita pikirkan. Setelah kita selesai, mungkin ada seseorang yang sedang menunggu kesempatan membaca buku yang sama.

Kita tidak mengenalnya. Buku yang berada di tangan kita ternyata tidak hanya menghubungkan kita dengan perpustakaan. Ada orang lain di ujung sana, seseorang yang mungkin datang besok, minggu depan, atau beberapa bulan kemudian. Ia tidak tahu siapa yang membaca buku tersebut sebelumnya. Kita juga tidak akan tahu siapa dirinya. Perpustakaan bisa bekerja karena orang-orang yang tidak saling mengenal bersedia bergiliran.

Hal semacam itu sebenarnya sering terjadi di luar rak buku. Kita duduk di sebuah bangku taman, lalu pergi. Beberapa saat kemudian orang lain datang dan duduk di tempat yang sama.

Kita tidak mengenalnya. Ia pun mungkin tidak pernah memikirkan siapa yang berada di sana sebelumnya. Memang tidak perlu. Tetapi keadaan yang ia temukan sedikit banyak ditentukan oleh orang yang datang lebih dahulu.

Sebagian sudah ada jauh sebelum kita datang. Pohon yang menaungi bangku itu ditanam oleh orang yang mungkin tidak pernah kita kenal. Banyak hal kita temukan dalam keadaan sudah tersedia karena orang sebelumnya tidak menghabiskan semuanya untuk dirinya sendiri. Pada suatu waktu, giliran itu berpindah kepada kita.

Tentu tidak semua yang kita terima bertahan karena seseorang sengaja memikirkan orang yang datang sesudahnya. Ada yang memang dirawat, ada yang diperbaiki berkali-kali, dan ada pula yang sekadar masih tersisa. Tetapi cara kita menggunakan sesuatu tetap ikut menentukan apa yang akan ditemukan orang berikutnya.

Sesekali ada gunanya bertanya: ketika giliran kita selesai, dalam keadaan apa orang berikutnya akan menemukannya?

Jawabannya sering kecil sekali. Tidak meninggalkan sampah di tempat orang lain akan duduk. Tidak merasa seluruh ruang harus kita kuasai. Tidak ada yang terasa istimewa.

Orang yang menerima manfaatnya bahkan tidak mengetahui siapa yang telah melakukannya.

Ada hal menarik dalam cara perpustakaan mengajarkan itu. Kita boleh membawa sebuah buku pulang dan menikmatinya dengan sungguh-sungguh. Cerita, pengetahuan, bahkan satu kalimat yang kebetulan menyentuh pikiran dapat tinggal lama setelah buku selesai dibaca. Ketika masa pinjam berakhir, bendanya kembali. Apa yang sudah kita peroleh darinya tidak harus ikut dikembalikan.

Buku itu lalu tersedia lagi.

Seorang pembaca lain dapat membuka halaman yang pernah kita buka. Bisa jadi ia berhenti pada bagian yang sama. Bisa juga halaman yang kita lewatkan begitu saja justru menjadi alasan ia mengingat buku tersebut selama bertahun-tahun.

Kita tidak pernah bertukar nama. Tidak ada ucapan terima kasih antara pembaca pertama, kedua, atau kesekian. Yang ada hanya sebuah benda yang terus berpindah karena setiap orang, pada waktunya, bersedia melepaskannya.

Pada mulanya tanggal itu hanya tampak seperti aturan administrasi. Ia menjaga agar kesempatan membaca buku itu tidak berhenti pada satu tangan.

Beberapa hari kemudian, buku yang kita pinjam kembali berada di perpustakaan. Mungkin ia masuk ke rak. Mungkin tidak lama kemudian sudah berada di dalam tas orang lain.

Kita tidak tahu.

Ketika orang itu datang mencarinya, bukunya masih ada.

Bagikan Catatan Ini