Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Suar Berita
Kolonel Inf Muchlis Gasim, S.H., M.Si., M.H.I., CHMP.

Kolonel Inf Muchlis Gasim, S.H., M.Si., M.H.I., CHMP.

Perwira Menengah TNI AD

Pengamat komunikasi strategis, hubungan internasional, serta perkembangan teknologi dan masyarakat.

Sosial

Bahasa di Antara Kita

4 menit baca
Bagikan:
Bahasa di Antara Kita

Di sebuah meja kecil, botol-botol cat kuku berjajar dalam berbagai warna. Nagita sedang menata etalase sambil sesekali berkoordinasi dengan rekan nail artist di dekatnya. Tangannya bergerak, rekannya membalas, lalu pekerjaan berlanjut. Di depan mereka, pengunjung datang untuk mencoba layanan nail art.

Semua terlihat seperti kegiatan biasa di sebuah pameran. Peralatan disiapkan, warna dipilih, pengunjung dilayani. Setelah memperhatikan sedikit lebih lama, tampak bahwa sebagian percakapan dan koordinasi berlangsung dengan bahasa isyarat.

Adegan itu terjadi di booth Nail Art by MUA Tuli Bakti BCA dalam BCA Expo Jabodetabek 2026 di ICE BSD, Tangerang, pada 11–13 September lalu. Nagita dan rekan-rekannya adalah nail artist profesional yang mendapat pelatihan tata rias dan nail art melalui program pemberdayaan bagi Teman Tuli. Bahasa isyarat menjadi bagian dari cara mereka bekerja bersama.

Tidak ada yang tampak dramatis. Pengunjung datang membawa keinginannya, nail artist menangkap maksudnya, kemudian pekerjaan dimulai. Sesekali ada sesuatu yang perlu dipastikan sebelum tangan kembali bekerja. Semua berlangsung seperti pekerjaan lain yang membutuhkan dua orang untuk saling memahami.

Pemandangan seperti itu sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita cukup sering merasa urusan komunikasi selesai ketika sesuatu sudah dikatakan. “Saya sudah menjelaskan,” kata kita. Ketika orang di hadapan masih belum memahami, perhatian segera berpindah kepadanya. Kita mulai bertanya mengapa ia sulit sekali mengerti.

Lebih jarang kita memikirkan apa yang terjadi setelah kata-kata meninggalkan kita. Sebuah kalimat yang terasa terang di kepala sendiri bisa tiba dengan arti yang sedikit berbeda di kepala orang lain. Pengalaman hidup ikut masuk ke dalam percakapan. Suasana hati, kedekatan, dan keadaan ketika sesuatu dikatakan juga bisa mengubah cara sebuah pesan diterima.

Dua orang bahkan dapat memakai kata yang sama sambil membayangkan hal yang berbeda. Kita kemudian mencoba menjelaskan sekali lagi. Kalimat diperpanjang atau disusun ulang, kadang suara ikut sedikit meninggi. Ada kalanya cara itu berhasil. Pada kesempatan lain, masing-masing justru semakin yakin bahwa dirinya sudah cukup jelas.

Lalu muncul penilaian yang sangat kita kenal: keras kepala, tidak mau mendengar, sulit diajak bicara. Bisa saja penilaian itu memang tepat. Orang dapat memahami maksud kita dan tetap memilih pandangan lain. Tidak semua perbedaan perlu berakhir dengan kesepakatan.

 

Sebuah label, sayangnya, juga bisa membuat percakapan berhenti lebih cepat. Orang di seberang sudah ditempatkan sebagai sumber masalah, sementara cara kita sendiri berbicara tidak lagi ikut diperiksa. Kadang percakapan yang terasa buntu berubah setelah seseorang memberi contoh yang lebih sederhana, memberi waktu lebih panjang untuk berpikir, atau membiarkan orang lain menyelesaikan kalimatnya terlebih dahulu.

Tidak ada satu cara yang cocok untuk semua orang. Itu terdengar sederhana, tetapi mudah terlupakan ketika kita terlalu sibuk dengan apa yang ingin segera disampaikan.

Bagi orang Tuli, gerakan tangan, ekspresi wajah, dan gerak tubuh merupakan bagian dari bahasa yang mereka gunakan. Di meja nail art itu, semuanya hadir tanpa perlu menjadi pertunjukan. Dipakai untuk berkoordinasi, memastikan maksud, merespons pengunjung, lalu kembali bekerja.

Nagita dan rekan-rekannya tidak perlu ditempatkan sebagai kisah tentang orang yang sedang “mengalahkan keterbatasan”. Mereka sedang bekerja. Mereka mempunyai bahasa, menggunakannya, dan menyelesaikan apa yang harus dikerjakan. Dari sana justru terasa betapa mudahnya kita, yang terbiasa berbicara dengan suara, menganggap cara kita sendiri sebagai jalan yang paling biasa menuju pengertian.

Saat sebuah pesan terasa tidak sampai, kita sering sibuk mencari kata berikutnya. Kita ingin menjelaskan sekali lagi, sedikit lebih lengkap atau sedikit lebih tegas. Ada saat ketika itu memang diperlukan. Pada saat lain, perhatian kita mungkin perlu bergeser sejenak kepada orang yang sedang menerima: apa yang ia dengar, apa yang ia pahami, dan apakah kita masih berada dalam percakapan yang sama.

Di meja kecil itu, pekerjaan terus berjalan. Ada tangan yang bergerak, tatapan untuk memastikan, respons dari orang lain, lalu pekerjaan diteruskan. Pengunjung datang dan pergi. Warna dipilih, kuku dihias, hasilnya diperiksa.

Tidak ada yang terasa luar biasa ketika dilihat sepintas. Hanya orang-orang yang bekerja dan, di antara kesibukan itu, terus memastikan bahwa mereka saling memahami cukup jauh untuk menyelesaikan apa yang ada di hadapan mereka.

Bagikan Catatan Ini