Di Kampung Cipining, Cigudeg, Bogor, ada dua angklung yang namanya membuat saya berhenti sebentar: Bibit dan Anak Bibit. Keduanya bagian dari satu perangkat Angklung Gubrag, bersama Engklok 1, Engklok 2, Gonjing, dan Panembal. Di kampung itu ada tiga kelompok pemain yang mewakili generasi sepuh, generasi muda, dan anak-anak. Hubungan kekerabatan di antara mereka juga erat.
Bibit dan Anak Bibit tentu hanya nama. Namun sulit tidak memperhatikan orang-orang yang berganti di sekitar alat itu. Bambu dapat menua. Pemain pun bertambah usia. Anak yang hari ini belajar suatu saat bisa menjadi orang yang menunjukkan caranya kepada anak lain.
Tidak semua yang mereka ketahui tersimpan pada alat musiknya.
Ada masakan keluarga yang resepnya tidak pernah ditulis lengkap. Seseorang mengetahuinya karena bertahun-tahun melihat orang lain memasak. Orang yang terampil menggunakan tangannya pun kadang tahu lebih banyak daripada yang mudah ia jelaskan dengan kata-kata.
Angklung Gubrag dahulu dekat dengan kehidupan tani. Ia dimainkan ketika menanam padi, mengangkut hasil panen, dan menempatkan padi di lumbung. Kini ia juga hadir dalam pertunjukan di ruang yang berbeda. Kehidupan masyarakat berubah, dan tradisi mencari tempat baru di dalam perubahan itu.
Rekaman, video, arsip, dan sanggar tentu membantu. Suara yang pernah dimainkan dapat didengar kembali, gerakan tangan dapat diamati. Tetapi mengetahui belum selalu sama dengan bisa melakukan.
Kita dapat menonton seseorang memainkan alat berkali-kali, lalu menemukan bahwa mencobanya sendiri berbeda. Ada gerakan yang baru terasa setelah dilakukan. Ada bunyi yang harus disesuaikan dengan pemain lain. Ada pula kesalahan kecil yang baru dipahami ketika seseorang di sebelah menunjukkan caranya.
Bayangkan seorang anak memegang Anak Bibit untuk pertama kali. Ia menggoyangkannya seperti yang pernah ia lihat, tetapi bunyinya keluar berbeda dari yang selama ini ia dengar. Orang di sebelahnya tidak menjelaskan panjang. Ia memperbaiki gerak tangan anak itu sekali, kemudian membiarkannya mencoba lagi. Bunyinya belum tepat, tetapi sedikit lebih dekat. Ada bagian dari pelajaran seperti itu yang sulit dipindahkan hanya melalui catatan atau rekaman.
Banyak pengetahuan manusia berpindah dengan cara yang hampir tidak terasa. Seseorang menunjukkan. Orang lain mencoba, keliru, lalu mengulang. Tidak semua yang terjadi di antara keduanya dapat disimpan bersama bendanya. Dalam keluarga, kesempatan seperti itu bahkan dapat muncul berkali-kali tanpa pernah disebut sebagai pelajaran.
Ketika sebuah tradisi hilang, yang pergi mungkin lebih banyak daripada sebuah bunyi. Bisa ikut hilang kesempatan bagi orang yang lebih tua untuk menunjukkan sesuatu dan bagi yang lebih muda untuk bertanya. Satu ruang kecil tempat dua generasi berada cukup dekat untuk melakukan sesuatu bersama pun menghilang.
Kita sering mengatakan jarak antargenerasi semakin lebar. Bisa jadi memang begitu. Tetapi sebagian jembatannya mungkin kecil: resep yang dimasak bersama, keterampilan yang ditunjukkan dengan tangan, atau beberapa ruas bambu yang baru berbunyi ketika dimainkan orang lain.
Bibit dan Anak Bibit masih menjadi nama dua angklung di Cipining. Suatu hari bambunya mungkin berganti. Orang yang memainkannya pasti berganti.
Yang menarik bukan hanya apakah bunyinya masih terdengar, melainkan siapa yang duduk di sebelah siapa ketika bunyi itu dipelajari.


