SUARBERITA.COM - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo, Jawa Timur, tidak dapat lagi dianggap sebagai kejadian insidental. Berulangnya kasus serupa di berbagai daerah membuat YLKI mempertanyakan efektivitas sistem pencegahan yang diterapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
Sekretaris Eksekutif YLKI Rio Priambodo mengatakan rangkaian kejadian tersebut menunjukkan masih adanya celah dalam sistem keamanan pangan program MBG. Menurutnya, persoalan tersebut harus menjadi perhatian serius karena program menyasar masyarakat dalam jumlah besar.
“YLKI mulai pesimistis dengan efektivitas pencegahan BGN,” ujar Rio dikutip dari MediaIndonesia, Kamis (3/9/2026).
Rio menilai pergantian kepemimpinan di BGN semestinya dapat menghasilkan perbaikan nyata dalam pelaksanaan program, khususnya terkait pengawasan keamanan pangan. Namun, munculnya kembali kasus keracunan di sejumlah daerah menunjukkan bahwa persoalan serupa belum sepenuhnya teratasi.
Ia juga menyoroti target nihil keracunan dalam pelaksanaan MBG yang hingga kini belum terwujud. Menurut Rio, keamanan pangan seharusnya menjadi persyaratan utama sebelum program tersebut terus diperluas.
“YLKI mempertanyakan BGN, mau sampai kapan keracunan MBG terus terjadi?” tegasnya.
Rio meminta evaluasi terhadap pelaksanaan MBG tidak hanya dilakukan setelah terjadi korban. Pemerintah, kata dia, perlu memperkuat langkah pencegahan dan memastikan seluruh proses penyediaan makanan memenuhi standar keamanan sebelum dikonsumsi penerima manfaat.
“Jangan sampai evaluasi selalu dilakukan setelah korban berjatuhan,” ujarnya.
Menurut Rio, jumlah porsi makanan yang berhasil disalurkan tidak semestinya menjadi satu-satunya indikator keberhasilan program MBG. Keamanan dan keselamatan penerima manfaat harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam mengukur keberhasilan program tersebut.
“Jangan ukur keberhasilan MBG hanya dari jumlah porsi yang tersalurkan, tetapi juga dari keamanan dan keselamatan penerimanya,” katanya.
Dia menegaskan satu kasus keracunan saja sudah menunjukkan adanya celah yang perlu segera diperbaiki. Karena itu, pengawasan dan evaluasi harus dilakukan secara preventif agar potensi masalah dapat diketahui sebelum makanan sampai kepada penerima.
Kasus di Sidoarjo kembali menempatkan aspek keamanan pangan sebagai perhatian dalam pelaksanaan MBG. YLKI mendorong BGN memperkuat sistem pencegahan sehingga program pemenuhan gizi tersebut tidak menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat yang menjadi penerima manfaat.

