SUARBERITA.COM - Presiden Indonesia Prabowo Subianto menghadiri Eastern Economic Forum di Vladivostok, Rusia. Dalam forum internasional tersebut, Kepala Negara menyampaikan sikap politik luar negeri Indonesia secara terbuka dan lugas di hadapan Presiden Vladimir Putin terkait kerja sama ekonomi kedua negara.
Di hadapan Presiden Vladimir Putin, Prabowo menyatakan bahwa perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement) antara Indonesia, Rusia, dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) murni berfokus pada kesejahteraan, bukan bentukan aliansi militer melawan pihak mana pun.
"Saya mengatakan kepada Anda: Indonesia tidak ingin bergabung dengan aliansi militer mana pun, tetapi kami ingin bergabung dengan aliansi ekonomi," kata Prabowo. Dilansir dari Kompas, Kamis (03/09/2026).
Ia menerangkan bahwa diplomasi Indonesia menjangkau seluruh dunia untuk membangun kemitraan yang setara tanpa mencari permusuhan.
"Bagi kami, 1.000 teman masih terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak. Kami datang ke St. Petersburg tahun lalu untuk berteman, dan sekarang kami datang ke Vladivostok untuk mengubah persahabatan menjadi hasil yang pragmatis," jelasnya.
Lebih lanjut, Prabowo menilai Global South merupakan kekuatan penuntut keadilan dunia.
"Posisi kami jelas dan konsisten. Indonesia siap mendukung setiap upaya tulus menuju perdamaian yang adil dan langgeng di mana pun konflik masih berlangsung," tambahnya.
Pada kesempatan tersebut, Prabowo juga menagih penyelesaian ratifikasi serta penghapusan tarif bea masuk atas 11.882 pos barang. Indonesia sendiri telah memproses komitmen tersebut lewat Peraturan Presiden setelah kesepakatan St. Petersburg.
Kunjungan ini mempertegas langkah aktif Indonesia dalam diplomasi ekonomi global. Dengan meratifikasi perjanjian perdagangan bebas tersebut, pemerintah berharap hubungan dagang dengan Rusia dan kawasan Eurasia dapat segera memberikan manfaat nyata bagi pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat Indonesia.

