SUARBERITA.COM - Lebih dari 140 tahun lalu, kawasan Selat Sunda menjadi saksi salah satu letusan gunung api paling dahsyat dalam sejarah modern. Krakatau yang saat itu berada di antara Pulau Jawa dan Sumatra meletus hebat pada 26–27 Agustus 1883. Pada 1883, Krakatau nyaris menghilang dari peta. Namun lebih dari empat dekade kemudian, dari dasar laut di sekitar tempat menghilangnya Krakatau muncul sebuah gunung baru. Gunung itu kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau.
Letusan Krakatau 1883 bukan sekadar menghancurkan sebagian besar tubuh gunung. Menurut U.S. Geological Survey (USGS), Kekuatan ledakan Krakatau 1883 bahkan tidak berhenti di sekitar Selat Sunda, Suaranya terdengar ribuan kilometer hingga terdengar di Pulau Rodrigues, sekitar 5.000 kilometer dari sumber letusan. USGS mencatat suara ledakan tersebut sebagai yang paling keras dan paling jauh merambat dalam sejarah yang tercatat.
Bahkan juga rangkaian erupsi selama periode tersebut melepaskan lebih dari 4 mil kubik material vulkanik dan menewaskan lebih dari 36.000 orang. Sebagian besar korban meninggal akibat bongkahan Krakatau yang jatuh kelaut dan menybabkan tsunami yang menerjang pesisir Jawa dan Sumatra.
Namun, kehancuran Krakatau tidak berarti aktivitas vulkaniknya benar-benar berakhir. Di dalam kawasan kaldera yang terbentuk setelah letusan 1883, aktivitas vulkanik kembali membangun sebuah gunung baru.
Gunung baru itu kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau. Menurut situs resmi Kemen ESDM, aktivitas erupsi Anak Krakatau mulai tercatat pada 1927 ketika tubuh gunung masih berada di bawah permukaan laut. Dua tahun kemudian, pada 1929, tubuh Anak Krakatau mulai muncul ke permukaan. Sejak kemunculannya, gunung api tersebut tumbuh dengan cepat akibat aktivitas erupsi yang berlangsung berulang.
Anak Krakatau kemudian menjadi gunung api aktif yang terus mengalami pertumbuhan dan erupsi. Smithsonian Global Volcanism Program mencatat Anak Krakatau berada di dalam kaldera 1883 dan telah mengalami aktivitas erupsi berulang sejak 1927.
Karena itu, ketika Anak Krakatau kembali erupsi, yang menjadi perhatian bukan hanya aktivitas gunung api saat ini. Di balik kepulan abu yang terlihat sekarang, terdapat sejarah panjang tentang sebuah gunung yang pernah runtuh pada 1883, lalu melahirkan gunung baru yang hingga kini masih terus tumbuh dan aktif di Selat Sunda.
