SUARBERITA.COM - Badan Gizi Nasional (BGN) membantah kabar yang menyebut pihaknya memaksa sekolah di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap menjalankan kegiatan belajar demi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala BGN Sudaryono menegaskan pelaksanaan program MBG menyesuaikan kebijakan pemerintah daerah terkait kondisi sekolah. Artinya, apabila pemerintah daerah memutuskan kegiatan belajar diliburkan karena situasi karhutla, BGN tidak akan memaksakan program berjalan seperti kondisi normal.
“Jadi terkait karhutla di Kalimantan dan si Sumatra, intinya kami mengikuti pengumuman dari pemerintah daerah. Libur, tidak libur, itu kita mengikuti,” kata Sudaryono, dikutip dari kantor berita Antara, Kamis (3/9).
Menurut Sudaryono, keputusan mengenai aktivitas sekolah berada pada pemerintah daerah dengan mempertimbangkan kondisi di wilayah masing-masing. BGN tidak menjadikan keberlangsungan distribusi MBG sebagai alasan untuk mengabaikan keputusan tersebut.
Ia juga menepis anggapan bahwa siswa harus tetap datang ke sekolah meski wilayahnya sedang menghadapi dampak karhutla. Menurutnya, keselamatan dan kebijakan pemerintah daerah tetap menjadi acuan dalam pelaksanaan program.
“Pertimbangannya apa, kami tidak pernah kemudian memaksa demi MBG walaupun karhutla bukalah sekolah, enggak,” tegasnya.
Sudaryono menjelaskan persoalan lain dapat muncul ketika makanan MBG sudah diproduksi sebelum adanya keputusan sekolah diliburkan. Dalam kondisi seperti itu, makanan yang telah disiapkan perlu disalurkan agar tidak terbuang.
Dengan demikian, penyaluran makanan yang sudah terlanjur diproduksi tidak dapat diartikan sebagai instruksi kepada sekolah untuk tetap membuka kegiatan belajar di tengah kondisi karhutla.

